10 Merchandise Gaming yang Bikin Fans Esport Rela Antri dan Rogoh Kocek Dalam

Industri esport bukan cuma soal kompetisi dan prize pool jutaan dolar—ada tambang emas tersembunyi bernama merchandise yang omzetnya bisa bikin kamu melongo. Tahukah kamu bahwa fans esport rela mengantri berjam-jam dan merogoh kocek ratusan ribu bahkan jutaan hanya untuk satu item merchandise favorit mereka?

Kalau kamu pebisnis pemula atau entrepreneur yang ingin terjun ke industri gaming, merchandise esport adalah pintu masuk paling realistis. Tapi pertanyaannya: produk apa saja yang paling laris? Artikel ini akan mengupas tuntas 10 jenis merchandise esport yang terbukti diburu fans dan menghasilkan margin keuntungan paling menggiurkan. Siap-siap catat dan mulai planning bisnis merch-mu!


1. Jersey dan Apparel Tim Esport

Jersey tim esport adalah raja dari semua merchandise—ini bukan sekedar baju, tapi identitas, kebanggaan, dan sense of belonging bagi fans. Sama seperti jersey sepakbola Real Madrid atau Barcelona, jersey tim esport seperti Team Liquid, Fnatic, atau RRQ punya demand yang sangat tinggi.

Yang bikin jersey esport laris manis adalah emotional connection antara fans dengan tim favorit mereka. Ketika EVOS atau Bigetron menang turnamen besar, penjualan jersey mereka bisa naik 300-400% dalam seminggu. Limited edition jersey yang dirilis saat event tertentu bahkan bisa sold out dalam hitungan jam.

Dari sisi bisnis, margin keuntungan jersey cukup sehat—biasanya 30-50% tergantung kualitas dan lisensi. Kamu bisa mulai dengan pre-order model untuk meminimalkan risiko stok menumpuk. Pro tip: kolaborasi dengan tim lokal atau influencer gaming bisa jadi shortcut masuk pasar tanpa modal besar.


2. Kaos dan Hoodie Branded dengan Grafis Khas Gaming

Beda dengan jersey tim, kaos dan hoodie gaming branded menawarkan value proposition berbeda: lifestyle dan self-expression. Produk ini tidak terikat dengan satu tim, tapi lebih ke culture gaming secara umum—meme game populer, quote ikonik, atau artwork karakter game legendaris.

Hoodie gaming dengan desain minimalis tapi eksklusif sangat digemari millennials dan Gen Z. Mereka tidak perlu jadi hardcore fans suatu tim untuk beli—cukup merasa “iya gue banget nih” dengan desainnya. Brand seperti Razer Lifestyle atau HyperX Apparel sukses besar dengan strategi ini.

Keuntungan jualan kategori ini: fleksibilitas desain tinggi dan tidak butuh lisensi resmi (asal tidak langgar hak cipta). Kamu bisa test market dengan Print on Demand (POD) untuk validasi desain sebelum produksi massal. Target market-nya lebih luas—bukan cuma fans esport kompetitif, tapi semua gamer casual yang ingin tampil stylish.


3. Topi dan Snapback dengan Logo Tim atau Brand Gaming

Snapback dan topi gaming adalah aksesori wajib yang menawarkan low barrier to entry baik untuk pembeli maupun seller. Harganya lebih terjangkau dibanding jersey (biasanya Rp150k-300k), sehingga impulse buying-nya tinggi.

Fans sering beli topi sebagai “starter merchandise” sebelum commit beli jersey yang lebih mahal. Topi juga praktis untuk daily use—bisa dipakai hangout, nonton turnamen, atau streaming—sehingga repeat purchase-nya lumayan bagus.

Dari perspektif bisnis, MOQ (Minimum Order Quantity) topi relatif rendah—kamu bisa mulai dari 50-100 pcs. Margin kotor bisa mencapai 40-60% tergantung kualitas material. Strategi bundling (beli jersey dapat diskon topi) juga efektif untuk naikkan average order value.


4. Mousepad Custom dan Gaming Desk Mat

Ini kategori yang sering underestimated tapi demand-nya stabil tinggi. Setiap gamer butuh mousepad—itu fakta. Dan mereka tidak mau mousepad generic biasa, mereka mau yang berdesain keren, ukuran jumbo, dan smooth untuk flick shot.

Gaming desk mat ukuran besar (80×40 cm atau lebih) jadi tren kuat belakangan ini. Selain fungsional, desk mat dengan artwork tim esport atau game favorit bikin setup gaming terlihat aesthetically pleasing—penting banget untuk konten Instagram atau TikTok.

Bisnis mousepad punya margin luar biasa: cost produksi bisa serendah Rp30k-50k per pcs untuk ukuran standard, dijual Rp100k-200k. Kalau kamu punya desain eksklusif atau kolaborasi dengan artist gaming, harga bisa mencapai Rp300k-500k. Print quality dan material stitched edge jadi differentiator utama—invest di vendor yang bagus untuk build reputation.


5. Tumbler dan Botol Minum Gaming-Themed

Hydration is key—dan gamer sekarang makin aware soal kesehatan. Tumbler atau botol minum dengan branding tim esport atau karakter game jadi functional merchandise yang punya repeat visibility tinggi.

Bayangkan: seorang fans bawa tumbler RRQ ke kampus, teman-temannya lihat, tertarik, tanya belinya di mana—boom, organic marketing. Tumbler juga sering dibawa ke event esport, kopdar komunitas, atau LAN party—exposure gratis yang berkelanjutan.

Profit margin tumbler bisa mencapai 50-70% tergantung kualitas (stainless steel vs plastic). Strategi bundle dengan merchandise lain (jersey + tumbler) biasanya efektif. Customization option seperti nama pemain favorit atau quote personal bisa jadi upselling point yang menggiurkan—markup 20-30% tapi fans tetap bayar.


6. Sticker Pack dan Vinyl Decals

Jangan remehkan sticker pack—produk kecil dengan margin besar dan barrier entry paling rendah. Biaya produksi sticker sangat murah (Rp500-2.000 per sheet), tapi bisa dijual Rp15k-50k per pack. ROI-nya gila-gilaan.

Sticker adalah impulse purchase champion—murah, cute, collectible. Fans sering beli bukan karena butuh, tapi karena “lucu sih, murah juga”. Mereka tempel di laptop, keyboard, mouse, bahkan helm motor—jadi walking billboard gratis untuk brand kamu.

Strategi winning: bikin series sticker limited edition tiap bulan dengan tema berbeda (hero game, meme turnamen, roster pemain). Ini menciptakan FOMO (Fear of Missing Out) dan collecting behavior. Kolaborasi dengan fanart artist juga bisa jadi win-win solution—mereka dapat exposure dan royalty, kamu dapat desain berkualitas tanpa hire designer fulltime.


7. Keychain dan Enamel Pins Koleksi

Enamel pins dan keychain adalah merchandise kategori collectibles yang punya fanbase fanatik tersendiri. Bukan sekadar aksesori, ini tentang koleksi, display, dan pride.

Pins dengan desain karakter game, logo tim, atau achievement turnamen (misal: “World Champion 2024”) punya perceived value tinggi meski ukurannya kecil. Fans rela beli set lengkap (5-10 pins) sekaligus dengan harga Rp300k-500k. Limited edition pins bahkan bisa jadi investment item—harganya naik di resale market.

Dari sisi produksi, MOQ pins memang tinggi (biasanya 100-300 pcs per desain), tapi margin bisa mencapai 100-200%. Biaya produksi Rp15k-25k per pin, jual Rp50k-100k. Pre-order campaign sangat efektif untuk pins—kamu bisa gauge demand sebelum produksi, zero risk stok mati.


8. Gaming Gear Kolaborasi (Headset, Keyboard, Mouse)

Ini high-ticket merchandise yang margin absolutnya paling besar—meski margin persentasenya lebih kecil dibanding sticker. Kolaborasi antara tim esport dengan brand gaming gear seperti Logitech, Razer, atau SteelSeries menghasilkan produk limited edition yang diburu kolektor.

Contoh nyata: Razer x Team Liquid edition mouse atau HyperX x Cloud9 headset sering sold out dalam pre-order. Fans tidak cuma beli karena performance—mereka beli karena exclusivity dan bragging rights.

Kalau kamu pebisnis pemula, kamu tidak perlu langsung produksi gear sendiri. Model reseller atau distributor bisa jadi starting point. Cari brand gaming gear yang buka peluang exclusive distribution untuk region tertentu. Margin memang lebih tipis (15-30%), tapi average order value-nya tinggi (Rp1-5 juta per transaksi)—revenue absolute tetap besar.


9. Poster, Wallpaper, dan Art Print

Visual merchandise seperti poster dan art print punya nostalgia factor yang kuat. Meski era digital, banyak fans masih suka dekorasi kamar atau gaming corner dengan poster fisik tim atau game favorit.

Art print berkualitas tinggi (glossy paper, frame-ready) bisa dijual Rp75k-250k per piece—jauh lebih mahal dari poster biasa. Signed print oleh pro player atau limited edition art by renowned illustrator bahkan bisa tembus Rp500k-2 juta.

Strategi bisnis: mulai dengan poster standard untuk mass market, sambil bangun katalog premium art print untuk high-end collector. Gunakan platform seperti Tokopedia atau Shopee untuk volume, dan Instagram/Discord untuk direct sales premium product. Dropship model dengan artist juga feasible—kamu fokus ke marketing, artist handle production.


10. Action Figure dan Collectible Figurine

Ini holy grail dari merchandise esport—produk dengan highest perceived value dan margin terbesar, tapi juga paling challenging untuk produksi dan distribusi.

Action figure karakter game seperti Dota 2, League of Legends, atau Mobile Legends punya fanbase kolektor yang willing to pay premium price. Figurine berkualitas tinggi bisa dijual Rp500k-3 juta per piece. Limited edition figurine dari event besar seperti The International bahkan bisa sold out sebelum diproduksi.

Tantangannya: MOQ sangat tinggi (500-1000 pcs), lead time produksi panjang (3-6 bulan), dan butuh licensing resmi dari game developer—tidak bisa sembarangan. Tapi kalau kamu berhasil, brand loyalty dan repeat customer-nya luar biasa.

Rekomendasi untuk pemula: mulai dari Funko Pop atau chibi-style figurine yang lebih affordable untuk produksi. Atau fokus ke resin statue custom buatan lokal—MOQ lebih rendah, bisa pre-order, dan support UMKM lokal—marketing point bagus untuk build brand image.


Kesimpulan

Industri merchandise esport adalah blue ocean yang masih terus tumbuh. Dari 10 kategori di atas, kamu bisa mulai dari produk low-risk seperti sticker dan mousepad, lalu scale up ke apparel dan collectibles seiring brand kamu makin establish.

Kunci sukses bisnis merch esport bukan cuma soal produk, tapi memahami psikologi fans: mereka tidak beli produk, mereka beli identity, belonging, dan pride. Berikan value itu, dan mereka akan jadi loyal customer yang rela repeat order.

Kamu sudah punya pengalaman jual merchandise esport? Atau masih bingung mau mulai dari produk mana? Share cerita atau tanyakan di kolom komentar! Dan kalau artikel ini membantu, bagikan ke teman-teman entrepreneur kamu yang juga pengen terjun ke industri gaming!

Leave a Comment